Salam Perdamaian

Mari kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, karena setiap kebaikan tidak akan pernah ada penyesalan

assalamua'laikum warohmatullah wabarokatuh

selamat datang kawan, salam kenal dan shilaturrohim

Minggu, 04 April 2010

Al-Qur'an Sebagai Hujjah

AL-QUR’AN SEBAGAI HUJJAH SYAR’IYAH
By. Ahmad Syakur Isnaini, S.Ag

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan hidayah bagi manusia dan seluruh makhluq yang bertaqwa di atas bumi ini. Ia adalah mu’jizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Rasulnya Muhammad SAW. Kemukjizatan al-Qur’an bersifat langgeng sepanjang zaman sebagai cahaya penerang yang membawa kebenaran agar dapat hidup teratur dan tertib serta benar dalam kehidupan ini. Seluruh alam yang luas beserta isinya dari bumi, laut dan segala isinya akan menjadi kecil dihadapan manusia yang lemah, karena ia telah diberi keistimewaan-keistimewaan seperti kemampuan berpikir untuk mengelola seluruh yang ada dihadapannya. Akan tetapi Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa adanya wahyu pada setiap masa, agar mendapat petunjuk dan menjalankan kehidupannya dengan terang dan benar.
Maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan mu’jizat yang sesuai dengan kecanggihan kaum pada masanya, agar manusia mempercayai bahwa ajaran yang ia bawa datang dari Allah SWT. Oleh karena akal manusia pada masa pertama perkembangannya lebih dapat menerima mu’jizat yang bersifat materi seperti mu’jizat tongkat Nabi Musa yang bisa berubah menjadi ular besar, mu’jizat Nabi Isa dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, dapat menyembuhkan orang buta maka setiap Rasul pun diutus dengan mukjizat yang sesuai dengan kemampuan kaumnya agar mudah diterima.
Secara bahasa lafazh al-Qur’an berasal dari kata qoroa – yaqrou – qiroatan – wa quranan yang berarti bacaan. Kemudian secara urf al-Qur’an bermakna kalam Allah yang dibaca oleh para hambanya. Secara istilah al-Qur’an diartkan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam bahasa Arab - dalam rangka melemahkan ( kaum Arab ) dengan surat yang paling pendek sekalipun - yang ditulis dalam mushaf-mushaf yang dinukil secara mutawatir dan dianggap beribadah bagi yang membacanya, dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.
KEISTIMEWAAN AL-QUR’AN
Dilihat dari definisi diatas bisa dilihat beberapa keistimewaan al-Qur’an, diantaranya maknanya berasal dari sisi Allah SWT, lafadznya berbahasa Arab diturunkan kepada seorang Rasulullah yang ‘ummi ( tidak bisa membaca dan menulis ) yang berfungsi sebagai i’jaz ( melemahkan ) kepada siapa saja yang ditantang untuk menandinginya. Keistimewaan-keistimewaan tersebut bisa di jabarkan dalam beberapa hal sebagai berikut :
1. Al-Qur’an al- Karim adalah kalam Allah baik secara lafadz dan maknanya. Hal ini tentu berbeda apabila hanya maknanya dari Allah sementara lafadznya dari rasulullah sendiri, karena makna yang terakhir ini tidak bisa dikatakan sebagai al-Qur’an dan tidak pula menempati kedudukan martabat sebagaimana al-Qur’an, sehingga tidak sah sholatnya dengan membaca al-Qur’an dengan selain bahasa Arab dan membacanyapun tidak termasuk ibadah.
2. Menafsiri sebuah surat atau ayat dengan lafdz Arab sebagai sinonim lafad-lafadz al-Qur’an yang bisa memberikan makna seperti lafadz asalnya, tidaklah kemudian lafadz-lafadz sinonim tersebut termasuk al-Qur’an. Bahkan sekalipun penafsiran itu benar adanya dengab makna dalalah yang ditafsiri. Karena al-Qur’an terdiri dari lafadz-lafadz bahasa Arab yang khusus yang diturunkan oleh Alla SWT
3. Penerjemahan sebuah surat atau ayat, kedalam bahasa selain bahasa Arab, juga tidak dianggap sebagai al-Qur’an. Sekalipun dalam pengalihan bahsa tersebut dilakukan secara sangat teliti dan disempurnakan sesuai dengan yang diterjemahkannya. Karena al-Qur’an terdiri dari lafadz-lafadz Arab yang khusus yang diturunkan oleh Allah SWT. Jadi jika penafsiran atau terjemahnnya tersebut sudah dianggap sempurn lantaran dilakukan oleh seorang ulama yang terpercaya ajarannya, ilmunya, amanahnya dan kecerdasannya, maka boleh saja dikatakan bahwa penafsiran atau terjemahan itu sebagai penjelas makna al-Qur’an. Tetapi tidak boleh dianggap sebagai al-Qur’an. Tidak pula mendapat ketetapan sebagaimana ketetapan hukum-hukum al-Qur’an. Maka ia tidak boleh dijadikan sebagai hujjah dalam bentuk bahasanya, keumuman lafadznya atau kemuthlakan bahasanya. Karena lafadz-lafadz ataupun bahasa itu bukanlah lafadz ataupun bahasa al-Qur’an. Dan tidak sah shalatnya seseorang yang menggunakannya , demikian juga tidak dianggap ibadah bagi yang memebacanya.
4. Al-Qur’an dinukil dengan periwayatan secara mutawatir dengan kebenaran periwayatannya. Dalam penukilan tersebut tidak saja melalui jalan hafalan para sahabat, tetapi juga rasulullah telah menyiapkan juru tulis pribadi khusus menulis wahyu Allah SWT, sehingga al-Qur’an bisa terpelihara hingga sekarang


KEHUJJAHAN AL-QUR’AN
Alasan bahwa al-Qur’an adalah hujjah atas seluruh umat manusia, dan hukum-hukum yang terdapat didalamnya harus ditaati, adalah bahwa al-Qur’an benar-benar diturunkan dari sisi Allah SWT dan disampaikan untuk umat manusia dengan jalan yang pasti tidak terdapat keraguan mengenai kebenarannya.Dalam keyakinan umat Islam, al-Qur’an sebagai Kalam Allah yang disampaikan melalui wahyu kepada Rasulullah Muhammad SAW. Wahyu disini ada beberapa pengertian, seperti diungkapkan dalam al-Qur’an :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“tidaklah dapat terjadi pada diri manusia bahwa Tuhan berbicara pada dengannya kecuali melalui wahyu, atau dari belakang tabir, ataupun melalui utusan yang dikehendakinya. Sesungguhnya Tuhan Maha Tinggi lagi Bijaksana “.

Dalam pengertian pertama wahyu bermakna pengertian atau pengetahuan yang tiba-tiba dirasakan oleh seseorang yang timbul dari dalam dirinya; timbul dengan tiba-tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Kedua, wahyu berupa pengalaman dan penglihatan dalam keadaan tidur atau dalam keadaan kasyf atau ru’yat dibelakang hijab sebagaimana terjadi pada wahyu Allah kepada Nabi Musa AS. Ketiga, wahyu dalam bentuk melalui utusan malaikat yaitu Jibril.
Sedangkan alasan bahwa ia adalah berasal dari sisi Allah SWT berupa kemukjizatannya melemahkan umat manusia untuk mendatangkan semisalnya, inilah yang disebut dengan I’jaz. I’jaz secara bahasa adalah menghubungkan sifat kelemahan dan menetapkannya kepada pihak yang lain. Dalam bahasa Arab dikatakan : a’Jaza al-Rajulu akhohu ( seseorang melemahkan saudaranya ). Dan al-Qur’an melumpuhkan umat manusia dalam arti menetapkan sifat lemah kepada mereka untuk mendatangkan yang semisalnya. Dalam al-Qur’an surat al- Baqorh 23 – 24 Allah berfirman :
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نزلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“ Jika kamu meragukan al-Qur’an yang kami turunkan kepada hamba kami ( Muhammad ) maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong kalian swelain allah, jika kalian termasuk orang-orang yang benar. Jika kamuntidak mampu membuatnya dan ( pasti ) tidak akan mampu, maka takutlah kalian akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir “

I’jaz tidak akan peernah terbukti menetapkan adanya kelemahan bagi orang lain, kecuali memenuhi tiga hal seperti berikut :
a. Adanya tantangan, tandingan atau perlawanan
b. Adanya motivasi dan dorongan kepada penantang ubtuk melakukan tantangan
c. Ketiadaaan penghalang yang dapat mencegah adanya tantangan.
Andaikan ada seorang olahragawan yang mengaku sebagai juara sejati, kemudian klaimnya tersebut ditentang oleh olahragawan yang lain, lalu orang yang mengaku juara sejati tersebut tidak terima, lalu menantangnya. Kemudian penentang yang ditantang tersebut tidak hadir atau tidak maju dalam arena pertandingan, padahal tidak ada alasan yang benar bahwa ia tidak menghadirinya, semisal sakit atau tidak ada halangan yang bisa mencegahnya untuk melakukan pertandingan, maka itu berarti sang penentang tersebut mengakui kelemahan dirinya dan sekaligus menerima pengakuan sang penantang.
Demikian juga dengan al-Qur’an yang Maha Sempurna untuk memperlakukan tantangan dengan kemukjizatannya. Terdapat pula pendorong atas perlakuan itu bagi orang yang hendak melawannya dan tidak terdapat penghalang bagi mereka. Oleh karena itu mereka tidak dapat melawannya dan tidak bisa mendatangkan yang sepadan dengan al-Qur’an.
Tantangan seperti itu pula yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika bersabda : “ Sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Hujjah bahwa aku adalah utusan-Nya ialah al-Qur’an ini, akan aku bacakan kepada kalian karena aku mendapat wahyu ini dari sisin Allah “. Ketika mereka mengingkari pengakuannya, maka beliau bersabda kepada mereka : “ Apabila kalian dalam kerahu-raguan bahwasanya al-Qur’an adalah dari sisi Allah dan kalian sepakat menurut akal kalian bahwa al-Qur’an adalah buatan manusia, maka datangkanlah olehmu yang sepadan dengan al-Qur’an atau sepuluh surat yang sepadan dengan al-Qur’an atau bahkan satu surat saja yang sepadan dengannya”. Rasulullah menantang mereka dan menuntut mereka dalam perlawanan ini dengan dialek yang menyakiti, bahasa yang kasardan ungkapan yang sinis yang melemahkan keteguhandan menggugah pada permusuhan. Beliau bersumpah bahwa mereka tidak akan mampu untuk mendatangkan yang sepadan al-Qur’an.
Ketika akal manusia mencapai kesempurnaannya Allah memberikan risalah Muhammad yang kekal kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada kaum di masanya saja. Maka mu’jizatnya adalah mu’jizat yang kekal sesuai dengan kematangan perkembangan akal manusia. ( al-Qattan, 1995 ; 257) Dan pada masa kesusastraan bahasa Arab yang tinggi pada waktu itu. A. Mukjizat Al-Qur’an ditinjau dari Aspek kebahasaan Al-Qur’an pertama kali berinteraksi dengan masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad Saw. Keahlian mereka adalah bahasa dan sastra Arab. Penyair mendapat kedudukan yang sangat istimewa dalam masyarakat Arab, sebenarnya mereka yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an adalah masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan Al-Qur’an.
Padahal mereka adalah ahli ilmu bayan dan diantara mereka terdapat pula tokoh-tokoh ahli ilmu fashohah dan ilmu balaghoh. Tempat mereka penuh dengan penyair, para pidatowan dan para fonolog dalam berbagai seni ucapan. Semua ini ditinjau dari segi morfologisnya. Sedangkan dari aspek maknawiyahnya dapat dibuktikan dalam karya syair mereka, karya khutbahnya, karya catatan-catatan hikmahnya dan hasil penemuan mereka yang menunjukkan bahwa mereka adfalah kaum yang cemerlang akalnya, mempunyai pandangan prospektif mengenai berbagai persoalan serta teliti dalam pelaksanaan sesuatau yang masih bersifat percobaan.
Tetapi sebagian mereka tidak dapat menerima Al-Qur’an karena pesan-pesan yang dikandungnya merupakan sesuatu yang baru, disamping tidak sejalan dengan adat kebiasaan dan bertentangan dengan kepercayaan mereka. Namun mereka tidak semuanya menolak, oleh karena itu sesekali mereka menyatakan bahwa al-Qur’an adalah syair, karena mereka menyadari keindahan susunan dan nada irama Al-Qur’an yang sangat menyentuh bagaikan syairnya para penyair ulung, padahal bukan syair, bahkan mereka menuduh bahwa Al-Qur’an adalah sihir ulung dan perdukunan. (Shihab, 2001 :112)

SISI KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN
Para ulama telah sepakat bahwa al-Qur’an dapat melemahkan manusia untuk membuat yang semisal dengannya bukan hanya karena satu aspek saja, akan ntetapi ada beberapa aspek, kbaik aspek lafzdiyah ( morfologis ), ma’nawiyah ( semantic ) dan ruhiyah ( psikologis ) nya. Semuanya saling terkait dan bersatu untuk melemahkan manusia. Bahkan hingga sekarang akal manusia tidak mampu untuk menjangkau seluruh aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an.
Akal setiap kali merenungkan ayat-ayat al-Qur’an atau dengan pembahasan secara ilmiyah telah dapat menyingkap rahasia-rahasia alam dam hukumnya atau dapat melahirkan keajaiban-keajaiban alam. Dengan demikian jelaslah aspek kemuikjizatan al-Qur’an dan s ekaligus akan dapat menemukan bukti bahwa ia benar-benar datang dari Allah SWT.
Diantara aspek-aspek kemikjizatan al-Qur’an yang telah dapat dicapai oleh akal adalah sebagai berikut :
1. Kesesuaian gaya bahasanya, maknanya, hukum dan teorinya
Al-Qur’an yang terdiri dari 6000 ayat ( menurut pendapat yang lain 6666 ayat ) diungkap dengan gaya bahasa dan uslub yang bermacam-macam dengan pokok pembahasan yang bermacam-macam pula ; akidah, akhlaq dan ahkam syar’iyah. Tidak akan ditenukan dari ungkapan-ungkapan tersebut suatu kontradiksi antar ayat satu dengan ayat lainnya. Begitu juga tidak akan dijumpai adanya pertentangan makna ayat satu dengan ayat yang lainnya, hukum satu satu dengan lainnya, prinsip satu dengan lainnya.
Andaisaja al-Qur’an buatan selain Allah baik secara sendiri-sendiri maupun kelompok niscaya tidak akan luput terjadinya kontradiksi antara suatu ungkapan gaya bahasa dengan lainnya. Karena akal manusia walaupun telah sempurna, tidak akan mungkin membuat 6000 ayat dalam tempo waktu 23 tahun dalam suatu keadaan dan kondisi yang tidak bertentangan antar lainnya.
2. Persesuaian ayat-ayatnya menurut teori ilmu pengetahuan
Al-Qur’an adalah dustur dan hujjah bagi manusia bukanlah tujuan dasarnya adalah menetapkan suatu teori-teori ilmiyah tentang penciptaan langit dan bumi, tentang penciptaan manusia, pergerakan planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya. Tetapi al-Qur’an sebagai pijakan dasar dalam rangka mengemukakan dalil akan wujud Allah, keesaan Allah, mengingatkan manusia akan nikmat-nikmat Allah. Al-Qur’an datang dengan beberapa ayat yang dapat dipahami sebagai hukum alam yang dapat disingkap oleh ilmu modern disetiap masa.
Dengan demikian menunjukkan bahwa ayat-ayat yang menjelaskan hal itu adalah benar-benar dari sisi Allah SWT, karena manusia tidaklah mempunyai pengetahuan akan hal itu, sedangkan cara beristidlal mereka hanya dengan zhohir ( formal ) nya hukum alam saja. Maka ketika suatu penelitian mampu menyingkap suatu ayat kauniyah Allah ( hukum alam ) dan telah jelas pula bahwa al-Qur’an telah menunjukkan hal itu, maka semakin mengokohkan bahwa al-Qur’an benar-benar dari sisi Allah SWT.
3. Memberitakan kejadian-kejadian yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT
Al-Qur’an telah mewartakan mengenai terjadinya suatu peristiwa yang akan datang yang tidak seorangpun memperidiksikannya dan mengetahuinya. Seperti dalam surat al-Rum ayat 1-4 :
غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ
“ Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan. Dinegeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahnnya itu akan menang. Dalam beberapa tahun ( lagi ). Bagi Allah lah segala urusan sebelum dan sesudah ( mereka menang ), dan pada hari ( kemenangan bangsa romawi ) itu bergembiralah orang-orang mukmin “.

Dan ternyata setelah kira-kira tujuh tahun setelah kekalahan Romawi, bangsa Persi bisa dikalahkan oleh bangsa Romawi.

4. Kefashohan lafadznya, kebalaghohan ungkapannya dan kekuatan ruhnya
Didalam al-Qur’an tidaklah terdapat lafdz-lafadz yang tidak enak didengar atau adanya kekacauan susunan bahasanya. Tentunya hal ini bisa dirasakan bagi mereka yang mempunyai dzauq Arabi ( daya rasa bahasa Arab ). Sementara kalau seseorang atau masyarakat tidak dapat mengetahui atau merasakan betapa indah dan teliti bahasa Al-Qur’an, bukan berarti aspek ini tidak ditantangkan kepada mereka. Hal ini juga tidak mengurangi keistimewaannya dari segi bahasa. Akan tetapi karena mereka tidak memahaminya, maka perlu ditampilkan aspek lain dari keistimewaan Al-Qur’an yang mereka pahami seperti isyarat ilmiah atau pembeeritaan gaibnya, maka kalau pada saat ini ada seorang yang merasa mampu dalam bidang bahasa, maka Al-Qur’an akan tetap tampil menantangnya dalam bidang kebahasaan.
Seperti tantangan Al-Qur’an untuk menyusun serupa dengannya, atau menyusun lebih kurang dari sepuluh surat saja. (al-Zarqani, tt :333) Bahasa Arab sejak masa turunnya Al-Qur’an hingga saat ini telah melewati periode-periode yang beraneka ragam, baik masa kejayaan atau masa kemundurannya, pada masa peradaban dan masa primitf, namun Al-Qur’an tetap berada diatas dari hasil seluruh karya yang ada. Karena di dalamnya terdapat susunan kata-kata yang istimewa, terdapat hakekat dan majaz, ijaz dan ithnab. (al-Qattan, 1995 : 265) Kemukjizatan dari segi bahasa ini dapat diteliti dari hal-hal sebagai berikut; Susunan Kata dan Kalimat Al-Qur’an yang bercirikan; 1. Mempunyai nada dan langgamnya yang terasa berbeda dari yang lainnya, bukan syair ataupun puisi, namun terasa terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menagis dan bersuka-cita. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya.
Serperti misalnya dalam surat An-Naziyat 1-14. 2. Singkat dan Padat, Al-Qur’an memiliki keistimewaan bahwa kata dan kalimat-kalimatnya yang singkat dapat menampung sekian banyak makna, ia bagaikan berlian yang memancarkan cahaya dari setiap sisinya, jika dipandang dari satu sisi maka sinar yang dipancarkannya berbeda dengan sinar yang terpancar dari sisi yang lain. Boleh jadi apa yang dilihat seseorang berbeda dengan apa yang dilihat orang lain.
Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah; (2 : 212) Ayat ini bisa berarti; a) Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang berhak mempertanyakan kepada-Nya mengapa Dia memperluas rezeki kepada seseorang dan mempersempit yang lain. b) Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa Dia memperhitungkan pemberian itu. c) Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang diberi rezeki tersebut dapat menduga kehadiran rezeki ini. d) Allah memberikan rezeki kepada seseorang tanpa yang bersangkutan dihitung secara detail amal-amalnya. e) Allah memberikan rezeki kepada seseorang dengan jumlah rezeki yang amat banyak sehingga yang bersangkutan tidak mampu menghitungnya. (Shihab, 2001 :121) f)
Mempunyai Keseimbangan Redaksi, Abdurraziq Naufal dalam bukunya Al-I’jaz Al-‘Adad Al-Qur’an Al-Karim (Kemukjiatan dari segi Bilangan dalam Al-Qur’an) yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, diantaranya; a) Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dngan antonimnya; Al-Hayah dan al-maut masing-masing 145 kali, an-nafa dan al-fasad masing-masing sebanyak 50 kali, al-harr dan al-bard masing-masing 4 kali. As-shalihat dengan as-sayyiat ada 167 kali. Dan banyak lagi lainnya. b) Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonim atau makna yang dikandungnya; Al-Harts dan az-zira’ah masing-masing 14 kali, al-‘ujub dengan al-ghurur ada 27 kali, adh-dhallun dan almauta ada 17 kali, al-Qur’an, wahyu dan al-islam masing-masing 70 kali. An-nur ada 49 kali.

IKHTITAM
Telah terdapat sekian banyak kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh Al-Qur’an, tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan Ke EsaanNya, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepada-Nya. Selalu kita ingatkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sekedar kitab yang mempunyai Mukjizat, akan tetapi lebih dari itu ia adalah kitab petunjuk dan hidayah yang memberi jalan terang dan lurus menuju ridha Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML